Memahami Visi-Misi Calon Presiden dalam bidang Pendidikan: Visi-Misi Jokowi lebih unggul, sistematis dan jelas arahnya

Home / Opini / Memahami Visi-Misi Calon Presiden dalam bidang Pendidikan: Visi-Misi Jokowi lebih unggul, sistematis dan jelas arahnya

 

Oleh: Arimbi Heroepoetri.,S.H.,LLM

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari)

 

Jakarta, 14 Maret 2018

Pengantar

Secara umum visi dimaknai sebagai gambaran dan tujuan cita-cita jangka panjang yang ingin dicapai dari sebuah organisasi di masa depan. Sedangkan misi adalah cara untuk mencapai tujuan/visi tersebut. Berdasarkan pemahaman ini, maka marilah melihat Visi-Misi dari kedua calon Presiden Indonesia 2019 – 2024 tersebut.

Visi Jokowi adalah “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”. Untuk menjalankan visi tersebut, ada 9 misi, yang terbagi lagi dalam sub-sub poin. Sedangkan visi Prabowo adalah: “Terwujudnya bangsa dan Negara republik Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, relijius, berdaulat, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian nasional yang kuat di bidang budaya serta menjamin kehidupan yang rukun antarwarga Negara tanpa memandang suku, agama, ras, latar belakang etnis dan sosial berdasarkan pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945” Kemudian ada lima Misi,  empat Pilar, dan masing-masing Pilar memiliki Program Aksi.

Keberadaan Pilar ini agak membingungkan, karena tidak cukup jelas di mana letak Pilar dalam Misi. Demikian juga soal relasi Program Aksi dengan Misi. Demikian juga bahasa Visi Prabowo, terlalu panjang dan bertele-tele dibanding bahasa Visi Jokowi. Akan lebih baik jika Visi Prabowo cukup sbb: “Terwujudnya  Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, relijius, dan berdaulat”. Sisanya adalah bahasa untuk Misi yang perlu menterjemahkan cara seperti apa untuk mencapai visi adil, makmur, bermartabat, relijius dan berdaulat.

Pendidikan dalam Misi Jokowi

Untuk Pendidikan secara spesifik termuat dalam Misi 1 poin 3 dan 4, yaitu: Mengembangkan Reformasi Sistem Pendidikan dan Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi yang:

mengedepankan investasi SDM di bidang pendidikan akan diarahkan untuk meningkatkan akses, keadilan, dan pemerataan kualitas pendidikan yang dikuatkan oleh ekosistem pendidikan yang mencakup keluarga, masyarakat, dan sekolah. Oleh karena itu, fokus reformasi di bidang pendidikan akan diletakkan pada (Misi 1.3):

  1. Mempercepat pelaksanaan wajib belajar 12 tahun.
  2. Mempercepat pemerataan penyediaan sarana-prasarana pendidikan dan infrastruktur pendukungnya di seluruh wilayah Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang infrastruktur pendidikannya masih kurang.
  3. Meningkatkan akses warga miskin untuk mendapatkan bantuan pendidikan (Program Indonesia Pintar).
  4. Memperluas beasiswa afirmasi dengan memberikan kesempatan mahasiswa-mahasiswa miskin, di wilayah 3T, santri dan siswa lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, untuk memperoleh beasiswa pendidikan (Bidik Misi maupun LPDP), serta memperluas akses mahasiswa mendapatkan pinjaman dana pendidikan dari perbankan.
  5. Mempercepat pemerataan kualitas pendidikan dengan peningkatan standar pendidikan, BOS berdasarkan kinerja, pemerataan sebaran, kualitas, dan peningkatan kesejahteraan guru/dosen dan Tenaga Kependidikan, termasuk percepatan penyetaraan pendidikan bagi pesantren, dayah, dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya sejajar dengan sekolah umum.
  6. Mendukung peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan di Madrasah, Pondok Pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan sebagai salah satu pelaku utama dalam pendidikan karakter bangsa.
  7. Meningkatkan pendidikan mental karakter bangsa melalui penanaman nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai agama sebagai 6 nilai luhur dalam berbangsa-bernegara, nilai-nilai budi pekerti, dengan metode pembelajaran yang inovatif.
  8. Mempercepat gerakan literasi masyarakat dengan memperbanyak perpustakaan dan taman-taman baca, serta pemberian insentif bagi industri perbukuan nasional.
Baca:  Presiden: Pengkritik Sri Mulyani Tak Mengerti Ekonomi Makro

Sedangkan seperti diuraikan dalam Misi 1.4. Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi dilakukan untuk menyiapkan SDM yang terampil diperlukan revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan perkembangan teknologi. Pada empat tahun terakhir, telah dilakukan langkah-langkah perombakan dan perbaikan terhadap sistem pendidikan dan pelatihan vokasi. Fondasi ini akan diteruskan pada periode berikutnya.

  • Meneruskan revitalisasi pendidikan vokasi untuk peningkatan kualifikasi SDM dalam menghadapi dunia kerja, baik Sekolah Menengah Kejuruan dan Politeknik, perkembangan teknologi.
  • Memperluas akses buruh untuk mendapatkan dana/beasiswa untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan.
  • Memperkuat pelatihan vokasi kewirausahaan bagi para santri.

Pendidikan dalam Misi Prabowo

Secara implisit Pendidikan termuat dalam Misi 2, yaitu: “Membangun masyarakat Indonesia yang cerdas, sehat, berkualitas, produktif dan berdaya …” karena ada kata kunci yang bisa diartikan sebagai wilayah pendidikan, yaitu ‘cerdas’, ‘berkualitas’, dan ‘produktif dan berdaya’. Pernyataan yang lebih tegas tentang pendidikan termuat dalam poin 3 Pilar II, sebagai berikut:

“Memperbaiki sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing global”

Untuk mencapai kondisi di atas, setidaknya ada 11 program aksi yang akan dijalankan, yaitu:

  1. Meningkatkan akses masyarakat terhadap buku yang murah dan terjangkau melalui kebijakan perpajakan yang menunjang (poin 7)
  2. Membangun perpustakaan dan taman-taman bacaan untuk mendorong gerakan literasi masyarakat (poin 8);
  3. mengembangkan  dan meningkatkan sekolah kejuruan Indonesia sebagai negeri agraris dan maritime, diantaranya bidang keahlian pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan kemaritiman, perindustrian, pariwisata, teknologi informasi, termasuk revitalisasi balai-balai latihan kerja (poin 9);
  4. mengangkat guru honorer secara berkala menjadi ASN (poin 10)
  5. Menerapkan wajib belajar 12 tahun (poin 11)
  6. memperkuat kelembagaan pendidikan non formal dan informal (poin 12)
  7. meningkatkan ketersediaan daya tampung perguruan tinggi (poin 13)
  8. meningkatkan akses peserta didik penyandang disabilitas (poin 14)
  9. mendorong perguruan tinggi untuk pengembangan riset dan ilmu pengetahuan (poin 15)
  10. membangun sistem pendidikan nasional yangmengedepankan pembentukan karakter bangsa (poin 18)
  11. menggalakan pendidikan karakter di seluruh lapisan masyarakat, pemerintahan, media dan lembaga pendidikan (poin 30).
Baca:  Presiden Ajak Ulama Tebar Kesejukan

Pendidikan untuk Semua

Terkesan kuat jika kedua kandidat berusaha menjabarkan pendidikan yang inklusif, artinya pendidikan bagi semua lapisan masyarakat, termasuk pendidikan untuk kelompok marjinal, tanpa kecuali. Karena itu, keduanya juga sepakat untuk terus dilakukan wajib belajar 12 tahun dan mengelola pendidikan formal dan informal.

Selanjutnya terjadi perbedaan yang cukup jauh, Prabowo menekankan kelompok marjinal hanyalah kelompok penyandang disabilitas, di luar itu tidak ada misalnya untuk kelompok Masyarakat Adat. Agak kedodoran, karena dari 11 program aksi di bidang pendidikan yang ditawarkan apakah mungkin dapat mendorong adanya “kualitas sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing global”seperti yang diuraikan Pilar II Poin 3? Pendidikan yang seperti apa yang harus dibangun agar adanya bangsa dan Negara yang relijius, tidak terjawab jika ketika memeriksa Misi dan Program Aksi. Jika relijius diartikan sebagai agama, tidak nampak jejak strategi pendidikan agama seperti apa. Di titik-titik inilah Prabowo terlihat seperti tidak memiliki strategi pendidikan yang logis, jelas dan dapat dijalankan.

Sementara Jokowi, runutan logika manajemen dari Visi ke Misi dan kegiatan strategisnya cukup jelas terlihat. Pendidikan masuk dalam Misi pertama, yaitu Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia melalui dua cara: 1. Mengembangkan Reformasi sistem Pendidikan dan 2. Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi.  Pendidikan yang inklusif dijabarkan melalui pendidikan formal, non formal, serta pendidikan vokasi. Perhatian khusus diberikan kepada pesantren, pendidikan agama dan kelompok buruh dan kelompok miskin. Namun, tidak secara spesifik adanya misi untuk menjangkau masyarakat adat melalui pendidikan yang cocok dan berguna bagi mereka.

Kesimpulan: Visi-Misi Jokowi Komprehensif dan terukur, Visi-Misi Prabowo kedodoran

Secara runutan logika visi ke misi dan ke program strategis, jokowi lebih runut dan jelas. Sementara prabowo tidak jelas dalam bahasa misi, dan visi, bahkan mencampur adukan antara program aksi, pilar dan bahasa misi. Ada Program Aksi yang sama sekali tidak menunjang misi, demikian juga ada Misi yang tidak menunjang Visi.

Related Post

WhatsApp chat